Properti Masih Jadi Investasi Relevan: Perspektif CEO Digital Business Sinar Mas Land, Mulyawan Gani

Di tengah dinamika ekonomi global yang memengaruhi berbagai sektor industri, properti tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang dianggap relevan dan berharga. Hal ini diungkapkan oleh Mulyawan Gani, CEO of Digital Business Sinar Mas Land, dalam perbincangannya di Bincang Emiten.

Menurut Gani, kepemilikan properti bukan sekadar urusan finansial, melainkan juga menyangkut aspek emosional, sosial, hingga keberlanjutan. “Kalau saya pribadi, aha moment itu adanya di rumah yang saya punya, bukan di hotel yang saya tinggal,” ungkapnya. Properti, lanjutnya, menyimpan nilai sentimental karena menjadi tempat terciptanya momen kehidupan: membesarkan anak, merawat orang tua, hingga membangun cerita keluarga.

Tren Generasi Muda dan Properti

Salah satu fenomena menarik adalah meningkatnya minat generasi muda untuk memiliki rumah. Data internal Sinar Mas Land menunjukkan bahwa rata-rata usia pembeli rumah pertama kini berada di 33–34 tahun, lebih muda dibanding satu dekade lalu yang rata-rata 40 tahun.

Menurut Gani, hal ini menjadi bukti bahwa meskipun generasi muda dikenal lebih suka fleksibilitas dan sewa, nyatanya kepemilikan properti tetap penting. Hanya saja, pola konsumsi mereka berbeda: rumah yang lebih compact, lokasi strategis dekat transportasi publik, serta lingkungan dengan fasilitas lengkap.

“Betul, mungkin rumahnya kecil, tapi mereka suka ekosistemnya—ada feeder bus gratis, ada ruang hijau, dekat stasiun kereta. Jadi relevansi properti masih kuat asal sesuai kebutuhan konsumen,” jelasnya.

Segmen Pasar dan Tantangan

Industri properti sangat erat kaitannya dengan segmentasi pasar. Menurut Gani, segmen middle-up tempat Sinar Mas Land beroperasi masih menunjukkan permintaan yang sehat. Di sisi lain, tantangan justru datang dari segmen menengah ke bawah yang seringkali terjepit antara keterbatasan finansial dan kebutuhan hunian yang mendesak.

Untuk menghadapi dinamika ini, Sinar Mas Land mengandalkan portofolio yang terdiversifikasi: perumahan, apartemen, kawasan industri, golf course, hingga hotel. Diversifikasi ini menjadi kekuatan untuk tetap bertahan menghadapi risiko oversupply di sektor tertentu, seperti apartemen.

Properti sebagai Investasi Jangka Panjang

Bagi Gani, investasi di properti memiliki dimensi keberlanjutan yang tak tergantikan. Kepemilikan rumah mendorong disiplin finansial melalui kewajiban cicilan, yang pada akhirnya membentuk safety net bagi masa depan.

“Pertanyaannya, kalau kita panjang umur sampai 100 tahun, apa yakin bisa terus bayar sewa? Kalau punya rumah, itu jadi aset, bahkan bisa diwariskan. Jadi ada legacy yang tercipta,” ujarnya.

Peran Pemerintah: Regulasi dan Insentif

Gani juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah, terutama dalam penyederhanaan regulasi dan pemberian insentif. Ia menilai regulasi yang tumpang tindih kerap menjadi hambatan bagi pengembang.

“Kita butuh pemerintah yang pro-bisnis tapi tetap menjaga kepentingan konsumen. Kalau regulasinya jelas dan aman, kita bisa lebih fokus berinovasi,” katanya.

Insentif fiskal seperti keringanan BPHTB dan kemudahan perizinan juga disebut mampu mendorong permintaan sekaligus mendukung pengembangan kawasan baru.

Inovasi dan Masa Depan Smart City

Sinar Mas Land juga berkomitmen menghadirkan inovasi, terutama di BSD City yang dikembangkan sebagai living lab untuk konsep smart city. Mulai dari uji coba bus tanpa awak, pengembangan ekosistem digital, hingga pembangunan kawasan hijau dan ramah lingkungan.

“Kita selalu berpikir dari kacamata konsumen. Apa yang mereka mau, apa yang relevan. Karena yang kita bangun bukan sekadar perumahan, tapi kota yang terus hidup 30–50 tahun ke depan,” tutup Gani.

Cek Video Podcast Lengkap: 

Segmen 1: https://youtu.be/YBM9FZXjUbg

Segmen 2: https://youtu.be/8PjbA4oDFeY

Segmen 3: https://youtu.be/Az-5oRDH0qc

Oleh: AEI 1
25 Agustus 2025

23 Menit Membaca

Topik Terkait

Investasi Properti di Indonesia

 
Jika Anda ingin tahu lebih banyak, mari konsultasikan dengan Tim Kami